Pengertian Stratafikasi Sosial dan Macam-macamnya Menurut Ahli

Stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial merupakan sebuah realita yang selalu akan ada dalam kehidupan manusia.  Itu semua karena stratifikasi sosial merupakan konsekuensi atau akibat yang muncul akibat faktor-faktor pemicunya seperti keturunan, kekayaan,  kedudukan, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya. 

Dari stratifikasi sosial, kita akan dapati bahwa  setiap anggota  masyarakat sebenarnya memiliki fungsi dan peran yang berbeda- beda sesuai kelompoknya. Perbedaan  fungsi dan peran tersebut sama sekali tidak dapat ditafsirkan bahwa kelompok yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dengan kelompok yang lain.

Sebaliknya, pengelompokan tersebut menegaskan bahwa: setiap manusia memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangannya masing-masing dan  antara sesama manusia harus saling melengkapi dan bahu membahu satu sama lain agar segala kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan baik.

Pengertian Stratifikasi Sosial

Mungkin kamu pernah mendengar istilah-istilah seperti rakyat jelata, kaum bangsawan, golongan miskin, golongan menengah, golongan kaya, orang desa, orang kota, pejabat negara, rakyat jelata, berpendidikan rendah, berpendidikan menengah, berpendidikan tinggi, petani, pedagang, pemusik, pengamen, pemulung, dan lain sebagainya. Nah itu semua adalah contoh-contoh stratifikasi sosial.

Secara bahasa, istilah sosial berasal dari bahasa Inggris stratification. Kata stratification sendiri berasal dari kata stratum atau strata yang berarti pelapisan.

Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial berarti penggolongan warga masyarakat ke dalam kelompok-kelompok tertentu secara hierarkies atau bertingkat-tingkat baik kelas atas, kelas menengah ataupun kelas bawah.

Penyebab stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah adanya  sesuatu penghargaan dan penghormatan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Pembagian beberapa kelas seperti kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah merupakan dampak adanya ketimpangan dalam memberikan penghargaan.

Read More

Golongan yang mendapatkan penghargaan yang tinggi akan menempatkan  dirinya pada kelompok masyarakat kelas atas. Golongan yang mendapatkan penghargaan yang sedang-sedang saja akan menempatkan dirinya pada kelompok masyarakat kelas menengah. Sedangkan golongan yang mendapatkan penghargaan yang rendah akan menempatkan dirinya ke dalam kelompok masyarakat kelas bawah.

Stratifikasi Sosial

Macam-macam Stratifikasi Sosial Dilihat dari Proses Terbentuknya

Dilihat dari proses terbentuknya, stratifikasi sosial dapat dibagi dalam dua macam, yaitu: 

Stratifikasi Sosial Alamiah

yaitu pengelompokan masyarakat yang terjadai secara alami selaras dengan pertumbuhan masyarakat.
Stratifikasi sosial jenis ini, kehadirannya tidak dapat lepas dari kecenderungan bakat, minat, dan dukungan lingkungan.

Contohnya, di sekitar lahan yang subur berkembang masyarakat petani, di ling- kungan pantai berkembang masyarakat nelayan, dan banyak lagi contoh-contoh lain yang berhubungan dengan proses stratifikasi sosial secara alamiah.

Stratifikasi Sosial Disengaja

yaitu pengelompokan masyarakat yang terjadi secara disengaja dan direncanakan manusia.  
Adapun stratifikasi sosial jenis ini dapat kita perhatikan pada organisasi politik seperti pembagian kekuasaan, pembentukan organisasi politik, penyusunan kabinet, dan lain sebagainya.

Baca Juga Pengertian Diferensiasi Sosial, Ciri dan Bentuk-bentuk Diferensiasi

Macam-macam Stratifikasi Sosial Dilihat dari Berbagai Sudut Pandang

Seperti yang telah diuraikan dalam penjelasan sebelumnya, bahwa terbentuknya stratifikasi sosial sangat terkait dengan nilai-nilai yang berharga dan terhormat. Standar nilai yang berharga dan terhormat berbeda-beda. Hal ini sangat tergantung dari sudut mana seseorang memandang. Namun demikian, secara umum standar nilai tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kriteria, yakni

  • kriteria ekonomi
  • kriteria sosial,
  • dan kriteria politik.

a.  Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Ekonomi

Potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh seseorang memang berbeda-beda. Ada sebagian orang yang potensial tetapi tidak pernah memperoleh kesempatan untuk maju. Ada sebagian orang yang memiliki kesempatan yang sangat luas untuk maju sehingga memper- oleh kesuksesan dalam bidang ekonomi.

Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati bahwa pencapaian, penguasaan, dan kepemilikan seseorang dalam bidang ekonomi sangat ber- variasi. Variasi inilah yang telah memunculkan kelas-kelas ekonomi (economic classes) tertentu dalam kehidupan masyarakat. Tolak ukur kelas ekonomi (economis classes) adalah seberapa banyak seseorang memiliki pendapatan dan/atau kekayaan.

Secara garis besar terdapat 3 (tiga) lapisan masyarakat dipandang dari sudut ekonomi, yaitu:

  1. Kelas Atas (upper class) | merupakan kelompok orang kaya yang diliputi dengan kemewahan
  2. Kelas Menengah (middle class) | merupakan kelompok orang yang berkecukupan, yakni mereka yang berkecukupan dalam hal kebutuhan sandang, pangan, dan papan
  3. Kelas Bawah (lower class) | merupakan sekelompok orang miskin yang sering mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Status sosial jenis ini bersifat terbuka. Artinya semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki status tertentu menurut level ekonomi baik kelas atas, menengah ataupun bawah. Semua tergantung pada diri setiap individu dalam mendapatkan penghasilan atau kekayaan. Orang yang hari ini kaya sewaktu-waktu dapat mengalami kebangkrutan dan jatuh miskin. Sebaliknya, tidak mustahil orang miskin dapat mengubah nasibnya menjadi orang kaya asal bersedia bekerja keras dan hidup hemat. 

b.  Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Sosial

Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria sosial adalah jenis pengelompokan anggota masyarakat yang didasari status sosial yang dimiliki di dalam kehidupan masyarakat. Status sosial adalah kedudukan seseorang dalam suatu pola sosial tertentu.

Seperti yang diketahui, bahwa biasanya seseorang tidak hanya memiliki satu pola sosial, melainkan beberapa pola sosial . Oleh sebab itu, biasanya seseorang memiliki lebih dari satu  status sosial. Sehingga bisa saja seorang guru PNS berkedudukan sebagai ketua OrMas, Mubaligh, blogger dan se- bagainya.

Menurut Robert M.Z. Lawang, status sosial dapat diartikan ke dalam dua makna,yakni ditinjau dari sudut objektif dan subjektif

  • Secara objektif, status sosial merupakan suatu tatanan hak dan kewajiban yang secara hierarkis terdapat dalam suatu struktur formal sebuah organisasi. Sebagai misal, seorang pimpinan partai politik akan memiliki hak dan sekaligus kewajiban tertentu yang melekat pada status tersebut.
  • Secara subjektif, status sosial merupakan hasil penilaian orang lain terhadap diri seseorang yang terkait dengan siapa seseorang tersebut berhubungan. Dalam kaitan ini, secara subjektif seseorang bisa saja memberikan penilaian terhadap orang lain, apakah lebih tinggi atau lebih rendah statusnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk memberikan penilaian, apakah seseorang memiliki status sosial lebih tinggi atau lebih rendah dalam kehidupan sosial, Talcott Parsons mengemukakan lima kriteria penentu status sosial, yaitu:

  • Kelahiran, yakni status yang diperoleh berdasarkan kelahiran, seperti jenis kelamin, kebangsawanan, ras, dan lain-lain.
  • Kepemilikan, yakni status yang diperoleh berdasarkan harta kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.
  • Kualitas pribadi, yakni status yang diperoleh berdasarkan kualitas-kualitas kepribadian yang tidak dimiliki oleh orang lain, seperti kecerdasan, kelembutan, kebijaksanaan, dan lain sebagainya. 
  • Otoritas, yakni status yang diperoleh berdasarkan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain sehingga bersedia mengikuti segala sesuatu yang diinginkan.
  • Prestasi, yakni status yang diperoleh berdasarkan prestasi yang dicapai, baik dalam hal berusaha, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Dalam budaya Indonesia khususnya di kalangan masyarakat Hindu Bali dikenal sistem kasta yang terdiri dari empat bagian, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.

  1. Kasta Brahmana merupakan lapisan sosial yang terdiri dari kaum pendeta dan ahli agama Hindu.
  2. Kasta Ksatria merupakan lapisan sosial yang terdiri dari kaum bangsawan.
  3. Kasta Waisya merupakan lapisan sosial yang terdiri dari kaum petani dan kaum pedagang.
  4. Kasta Sudra merupakan lapisan sosial yang terdiri dari para pekerja kasar seperti tukang batu, tukang kayu, dan lain sebagainya.

Status sosial yang terjadi dalam sistem kasta bersifat keturunan. Artinya, kasta merupakan status sosial yang dapat diwariskan. Dengan demikian, jika ditinjau dari macam-macam status sosial kasta merupakan status bawaan (ascribed status) yang sangat berbeda dengan status yang diusahakan (achieved status).

Pada masyarakat  modern,  status  sosial  lebih  cenderung  diusahakan  (achieved status), bukan diperoleh secara keturunan (ascribed status). 

c.   Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Politik

Status sosial yang berdasarkan kriteria politik merupakan penggolongan anggota masyarakat berdasarkan tingkat kekuasaan yang dimiliki. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, maka semakin tinggi pula statusnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. 

Pada dasarnya kekuasaan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi pihak lain agar menuruti segala kehendak dan kemauannya. Dengan demikian terdapat dua kutub dalam kekuasaan, yaitu yang menguasai dengan yang dikuasai. Antara yang menguasai dengan yang dikuasai terdapat batas-batas yang tegas yang menimbulkan stratifikasi kekuasaan atau piramida kekuasaan.

Hubungan antara Status Sosial, Peran Sosial, dan Interaksi Sosial

Konsekuensi dari status adalah peran. Seorang guru akan berperan memberikan pelajaran dan pendidikan kepada para pelajar. Seorang dokter akan berperan dalam memeriksa dan memberikan pelayanan medis kepada pasien yang membutuhkannya.

Seorang pedagang akan berperan aktif dalam kegiatan perdagangan. Banyak sekali contoh lain yang menunjukkan bahwa antara status dan peran merupakan satu kesatuan tunggal yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jika peran sosial tidak dilaksanakan dengan baik, maka seseorang akan menerima sanksi, baik yang bersifat moral maupun formal. 

Related posts